Kidung Malam (12) Batari Kuda Bersayap

Isyarat kuda bersayap itu jelas, aku diminta duduk di punggungnya.

Aku coba menuruti keinginannya. Siapa tahu aku diterbangkan ke tanah Jawa.

Sejenak setelah duduk dipunggungnya, sayapnya digepakan, ia terbang melintas samodra. Aku terkejut, berpegang lehernya erat-erat, takut akan jatuh. Kuda Bersayap mengurangi kecepatan. Ia tahu, aku ketakutan.

Beberapa waktu kemudian, aku mulai tenang, dan berani menebarkan pandangan. Oh betapa indahnya pemandangan di atas awan.

Mega berarak laksana kapas putih terbang ditiup seribu bidadari jelita. Air laut bagaikan beludru biru, selimut para Dewa.

Dari kejauhan aku melihat daratan. Itulah tanah Jawa, tempat Begawan Abiyasa tinggal. Semakin dekat tampaklah, bahwa daratan itu sangat subur.

Tanpa aku perintah, Kuda bersayap mulai merendahkan terbangnya, dan mendarat dengan lembut di tanah Jawa.

Benar-benar aneh, ia tahu tujuanku.

Aku heran dengan kejadian yang baru saja aku alami. Apakah aku sedang bermimpi? Tidak! Ini alam nyata. Aku telah berdiri di tanah Jawa. Dan kuda bersayap itu telah menolongku. Tampaknya Kuda bersayap itu tidak peduli.bahwa aku masih keheranan, ia berjalan meninggalkan aku.

Beberapa langkah kemudian, ia berhenti dan menoleh kepadaku.

Aku mulai mengerti isyaratnya, bahwa aku diminta mengikutinya. Aku penasaran, akan ku ikuti ke mana ia melangkah. Apa yang diinginkannya?

Ku perhatikan dari belakang, langkahnya gemulai, bak putri raja. Ooh! kuda itu betina

Tidak lama kemudian kami sampai di tengah taman aneka bunga indah. Tempat ini sangat romantis. Siapa pun orangnya akan merasa nyaman berada di tempat ini, terutama bagi sepasang remaja.

Ah jika aku ditemani seorang bidadari, alangkah bahagianya.

Aku dapat memadu kasih sepuasnya tanpa ada yang menggangu.

Selagi aku mengkhayal layaknya seorang jejaka yang kesepian, mulut kuda betina menyentuh punggung tanganku dengan lembut. Aku terkejut. Kutarik tanganku cepat-cepat. Kuda betina kecewa dengan perlakuanku. Dari sorot matanya tampak kesedihan itu. Aku menyesal telah melakukannya dengan kasar. Seharusnya aku elus-elus dahinya, seperti yang aku lakukan terhadap kuda-kudaku di Hargajembangan.

Aku dekati kuda bersayap tersebut. Aku elus dahinya, kepalanya dan lehernya dengan lembut. Matanya yang sedih menjadi berbinar penuh kebahagiaan.

Hari-hari berlalu tanpa ada niatan meninggalkan tempat itu. Aku semakin akrab dengannya.

Pada suatu malam antara sadar dan mimpi, di sebuah taman bunga nan elok indah, sayup-sayup terdengar suara kidung malam yang menghanyutkan. Ada suasana romantis, sakral, agung berbaur menjadi satu. Aku tidak dapat menceritakannya dalam wujud kata-kata keelokan malam itu. Di tempat tersebut, aku bertemu dengan seorang batari jelita, Wilutama namanya. Kami berdua saling mencurahkan kasih.

Kasih antara sepasang pria dan wanita.yang jatuh cinta.

Kasih antara suami dan istri.

Ketika kami puas meneguk kenikmatan.

Aku tersadar. Tidak jauh dariku, mata kuda bersayap itu menatapku.

Berdesir hatiku melihat sorot matanya. Benarkah sorot mata Batari Wilutama?

Apa yang terjadi dengan diriku dan Kuda bersayap?

Aneh, gaib, penuh misteri.

Semenjak peristiwa tersebut, aku semakin menyayangi Kuda bersayap. Karena di dalam sorot matanya aku diingatkan kepada Sang Batari Wilutama.

Tanpa pernah aku tahu kapan mengandungnya. Tiba-tiba secara ajaib kuda bersayap itu melahirkan seorang bayi, wajahnya mirip aku.

Anakku kah ini?

“Benar. Itu anak kita.”

Aku terkejut mendengar suara lembut merdu.

Astaga! Batari Wilutama? Mimpikah aku?

“Akulah Kuda bersayap itu. Bertahun-tahun aku menjalani kutukan dewa. Aku akan pulih menjadi Batari, jika dapat melahirkan manusia. Pertemuan kita merupakan akhir penantianku yang panjang. Aku menjadi bathari seperti semula.”

“Wilutama, aku mencintaimu. Kita akan membangun rumah tangga yang tentram damai, untuk bersama-sama mendampingi anak kita.” Maafkan kakang, kita tidak mungkin bersatu. Aku segera kembali ke kahyangan. Karena jika tidak, pasti aku mendapat hukuman yang lebih berat.”

“Mengapa pertemuan kita hanya sekejap, seperti mimpi?

“Sesungguhnya, hidup ini adalah sebuah mimpi. Memang hanya sekejap, namun sangat berarti. Pertemuan ini telah melahirkan sejarah baru, Seorang bayi buah cinta kita. Namakan ia Aswatama. Jika ada kesulitan dengan anak ini, sebut namaku dan aku akan menolong.”

“Lalu, bagaimana dengan hubungan kita?”

Terimalah tusuk konde ini, sebagai tanda cintaku. Jika engkau rindu padaku kecuplah benda ini, maka rindumu akan terpuaskan.”

Sekejap kemudian, setelah aku terima benda pusaka pemberiannya, Batari Wilutama lenyap secara gaib.

Sedih, kecewa, menyesal bercampur menjadi satu.

Sang Batari telah merampas cintaku.

Sebagai jejaka belia aku tak kuasa menanggungnya.

Apakah aku kuwalat terhadap orang tua?

Oh Aswatama, menangislah keras-keras agar ibumu mengurungkan niatnya meninggalkan kita.

Aku berteriak keras, Wilutamaaa…!

Aku gendong anakku, aku kudang sepanjang jalan .

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s